
Bocah kecil itu dengan riang berlari kesana kemari
Tak dihiraukannya terik sinar mentari yang membakar nadi
Mungkin inilah karunia untuk sibocah kecil yang sedang menari
Menari dan bernyanyi meski harinya sepi
Dia berlari mengejar biskota itu
Dia bergelut dengan waktu yang tiada tentu
Dia terhempas.... terhempas dalam kerasnya kota itu
Kota yang telah mempermainkan nasibnya yang tak menentu
Wahai wajah-wajah kecil yang lugu
Tidakkah kau hiraukan matahari membakar kulitmu?
Tidakkah kau pikirkan hari-hari yang kelabu
Yang hanya sekedar berteman desir angin dan debu
Namun wajah-wajah kecil itu tersenyum
Tersenyum dikala rasa itu telah menyatu
yang telah menarik perhatianku dengan decak kagum
Melihat wajah-wajah kecil itu setegar gunung batu
Tak dihiraukannya terik sinar mentari yang membakar nadi
Mungkin inilah karunia untuk sibocah kecil yang sedang menari
Menari dan bernyanyi meski harinya sepi
Dia berlari mengejar biskota itu
Dia bergelut dengan waktu yang tiada tentu
Dia terhempas.... terhempas dalam kerasnya kota itu
Kota yang telah mempermainkan nasibnya yang tak menentu
Wahai wajah-wajah kecil yang lugu
Tidakkah kau hiraukan matahari membakar kulitmu?
Tidakkah kau pikirkan hari-hari yang kelabu
Yang hanya sekedar berteman desir angin dan debu
Namun wajah-wajah kecil itu tersenyum
Tersenyum dikala rasa itu telah menyatu
yang telah menarik perhatianku dengan decak kagum
Melihat wajah-wajah kecil itu setegar gunung batu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar