Minggu, 31 Agustus 2008

Terbanglah Merpatiku




Putih indah dirimu
Seputih hatimu yang selalu dibaluri dengan iman
Indah dan lembut setiap helai sayapmu
Seindah panomara pantai saat mentari tenggelam

Wahai merpati kecilku
Tidakkah kau ingin bebas
Tidakkah kau ingin bersenandung bersama saudara-saudaramu
Bercanda ria dialam lepas

Merpati putihku yang cantik
Senyummu bagaikan oase dipadang pasir
Yang dapat melepaskan dahaga hatiku yang kian terik
Meski pun angin datang semilir

Terbanglah merpati manisku
Terbanglah engkau dialam bebasmu
Kurelakan engkau pergi meski rindu kan menghampiri hari-hariku
Sekedar mendengarkan kicauan senandung lagumu




Sabtu, 16 Agustus 2008

Pelangi Dikaki Bukit


Indahnya lukisan alam terpampang dihadapanku

Terdengar sayup-sayup kicau burung berkejaran tanpa henti

Namun dikala hati sedang pilu

Lukisan itu pun seakan terasa sepi


Pelangi, adakah engkau kan memarnai hari-hariku

Mampukah kau menerangi hatiku dengan warna

Akankah kau rindu suara kicau burung berlari menghampirimu

Seakan tiada lagi hari untuk kita bercengkrama


Warna-warni itu seakan mewakili hati para bocah kecil yang sedang bermain

Warna-warni itu seolah mengundang hati tuk menjerit

Lalu kututupi pandanganku dengan sehelain kain

Agar dapat kulupakan kenangan pelangi dikaki bukit


Pelangi dikaki bukit

Kurindukan saat-saat aku bersamanya

Meski melupakannya terasa sulit

Sulit melupakan kenangan indah bersamanya


Minggu, 10 Agustus 2008

Wajah-Wajah Kecil Itu


Bocah kecil itu dengan riang berlari kesana kemari
Tak dihiraukannya terik sinar mentari yang membakar nadi
Mungkin inilah karunia untuk sibocah kecil yang sedang menari
Menari dan bernyanyi meski harinya sepi

Dia berlari mengejar biskota itu
Dia bergelut dengan waktu yang tiada tentu
Dia terhempas.... terhempas dalam kerasnya kota itu
Kota yang telah mempermainkan nasibnya yang tak menentu

Wahai wajah-wajah kecil yang lugu
Tidakkah kau hiraukan matahari membakar kulitmu?
Tidakkah kau pikirkan hari-hari yang kelabu
Yang hanya sekedar berteman desir angin dan debu

Namun wajah-wajah kecil itu tersenyum
Tersenyum dikala rasa itu telah menyatu
yang telah menarik perhatianku dengan decak kagum
Melihat wajah-wajah kecil itu setegar gunung batu

Jumat, 25 Juli 2008

Aksara Cinta Tanpa Makna


Untaian kata-kata itu selalu menyertai disetiap langkahku
Rintihan tangisan itu tak kan sanggup menghentikanku
Uraian tanda cinta pun telah berlalu
Seiring berjalanya waktu bersama dirimu

Aku rindu segala canda tawamu
Aku butuh semua kasih sayangmu
Aku ingin semuanya tak berlalu
Seperti saat-saat ku bersamamu

Oh.. Cinta mengapa kau berlalu begitu saja
Oh.. Kasih mengapa kau tepis segala asa
Tak tahu kah aku rindu semua aksara cintamu
Meski Aksara itu tanpa pernah ada makna

Kupekikan dengan lantang segala kecongkakanku
Kuteriakkan semua keluh kesahku
Namun aku hanya sanggup berbisik
Ketika cinta itu datang mencekik

Pergi .... Pergilah resah
Enyah..... Enyahlah kau cinta
BIarkan aku menekuri hari-hariku yang indah
Meski semua tiada makna